AKSI NYATA
Modul 1: MENGENALI DAN MEMAHAMI DIRI SEBAGAI PENDIDIK
Dengan murid kita sekarang ini merupakan
generasi digital native, pendidik berperan
menyelaraskan yang relevan dengan konteks murid dan zaman. Kita sebagai
pendidik ingin membekali murid dengan pengetahuan, keterampilan keterampilan dan
sikap untuk terus belajar, dan mendampingi mereka memahami dan mencapai tujuan
belajar. Menurut KHD, mendidik anak sama dengan mendidik rakyat, Kehidupan saat
ini adalah buha dari pendidikan yang kita terima saat kita masih anak-anak.
Murid kita sekarang kelak akan menjadi bagian dari masyarakat, mereka kelak
bisa jadi sebagai pemimpin dalam perusahaanya, melakukan presentasi di ajang
nasional atau internasional. Pendidik dapat mengantarkan mimpi atau cita-cita
mereka, Pendidik memiliki peran yang sangat besar dalam menuntun dan
mengantarkan cita-cita merek kelak, ucapan dan perilaku kita sebagai
pendidik akan akan meninggalkan makna makna bagi murid murid yang kelak akan
menjadi bagian dari masayarakat. Dalam merancang, melaksanakan proses belajar
serta evaluasi kita harus utuh hadir di kelas sebab kontribusi kita menjadikan
murid kita memiliki kecakapan di masa depan.
Kita perlu terus belajar agar bisa
menghantarkan murid-murid untuk berdaya dan menjadi manusia yang merdeka.
Pendidik harus selalu peduli terhadap dunia pendidikan di Indonesia untuk mengadakan
perubahan menjadi lebih baik, yaitu perubahan pada diri sendiri, rekan sejawat,
lingkungan dan terutama dapat menumbuhkan nilai-nilai positif untuk murid sebagai transformasi dalam ekosistem
pendidikan untuk menghadirkan perubahan nyata bagi pendidikan Indonesia.
Pengajaran adalah suatu cara menyampaikan
ilmu atau manfaat bagi hidup anak anak secara lahir maupun batin, maka
pengajaran salah satu bagian dari pendidikan. Sama halnya dengan mengajar salah
satu bagian dari mendidik.
Pendidikan merupakan tempat menaburkan
benih benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat sekaligus sebagai instrumen tumbuhnya unsur peradaban agar kebudayaan yang wariskan kepada anak cucu kita
di masa depan. Menurut Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan sebagai tuntunan,
yaitu tuntunan dalam hidup tumbuhnya murid. Maka mendidik adalah menuntun
segala kodrat yang ada pada murid agar mereka mencapai kebahagian dan
keselamatan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia atau anggota masyarakat.
Pendidik dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan-kekuatan yang ada pada
murid dengan mengerahkan segala daya upaya untuk memajukan perkembangan budi
pekerti, pikiran dan jasmani murid agar dapat memperbaiki perilakunya.
Pendidikan tidak hanya bentuk pengajaran
yang memberikan pengetahuan kepada murid, namun juga mendidik keterampilan
berpikir, mengembangkan kecerdasan batin, dan akhirnya murid dapat mencapai
keselamatan dan kebahagiaan. Potensi murid hendaknya dituntun agar ia semakin
baik adabnya dan untuk mendapatkan kecerdasan yang luas sehingga ia terlindungi
dari pengaruh pengaruh yang dapat menghambat bahkan melemahkan tumbuhnya
potensi atau kekuatan dirinya.
Menurut pemikiran Ki Hajar Dewantara,
segala perubahan yang terjadi pada murid dihubungkan dengan kodrat keadaan, baik
alam maupun zaman.
Pembelajaran yang diterima murid sebaiknya
membantu mendekatkan konteks dengan kodrat alamnya bukan sebaliknya. Zaman
terus berubah, sehingga perbedaan muatan pendidikan dan cara belajar pada abd
21 ini sangatlah jauh berbeda dibanding sesudah kemerdekaan. Maka kita sebagai
pendidik harus bergegas untuk beradaptasi sesuai kodrat zaman untuk membantu
murid mencapai selamat dan bahagia. Kemajuan pesat teknologi akan ada perubahan
terhadap dengan cara belajar dan berinteraksi (kodrat zaman), maka guru
harus menyiapkan dan berdaptasi dengan
baik agar murid memiliki kompetensi yang relevan dan sesuai dengan keterampilan
abad 21 yaitu: berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif.
Guru
berperan membantu murid dalam mengelola respon-respon dan perasaan untuk
menemukan dan menentukan tujuan belajarnya. Murid mampu memahami hubungan diri
dan lingkungannya (kodrat alam) serta kontrbusinya terhadap lingkungan yang
akan terbentuknya kemampuan pengaturan belajar mandiri (self regulatory
learning), misalkan bagaimana cara proses mencari tahu tentang
kelistrikan kepada ahli elektronika
diluar jam pelajaran atas arahan guru.
Tujuan utama Pendidikan dapat menuntun
tumbuh kembangnya anak secara maksimal sesuai dengan karakter kebududayaannya
sendiri.
Dasar-dasar
Pendidikan nasonal berangkat dari pemikiran Ki Hajar Dewantara untuk diterapkan
di jenjang SMA, pendidik dapat menuntun (menjaga, memelihara) kekuatan kodrat
baiknya yang akan mempengaruhinya baik kodrat alam dan zaman supaya anak anak
dapat hidup mandri tanpa ketergantungan orang lain /bangsa lain (merdeka),
pembelajar mandiri dimanapun anak berada.
Menuntun
artinya guru memfasilitasi laku siswa dalam rangka menebalkan kodrat baiknya,
memfasiltasi dalam rangka memiliki kemampuan komplektif : reflektif, kritis,
kreatif dan novatif, sswa perlu melihat bahwa apa yang menjadi peristiwa dan
pengalaman yang dilihat dalam kehidupan sehari hari sebagai pengalaman belajarnya.
Setelah kemandirian untuk masa depannya sudah muncul dari pilihan anak, usaha guru harus menyesuaikan materi pelajaran sesuai kebutuhan anak dan minatnya supaya dalam proses pembelajaran berlangsung anak tidak terbebani. Konteks proses pembelajaran bersama ini merupakan bagian anak tangga menuju langkah kerberhasilan di sekian tahun yang akan datang. anak selama proses belajar tidak terbebani karena tidak dikejar KKP dan nilai, sebab anak sudah memiliki kesadaran sendiri.
Modul 4: MENDIDIK DAN MELATIH KECERDASAN BUDI PEKERTI
Pendidik dapat mengajarkan perilaku rendah hati dan bekerjasama, selain kognitif. Murid membutuhkan tuntunan yang dapat menumbuhkan budi pekerti dalam kehidupannya. Budi pekerti (watak) merupakan hasil dari bersatunya gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan, sehingga menimbulkan suatu tenaga. Budi pekerti merupakan perpaduan antara cipta (kognitif) dan rasa (afektif) sehingga menghasilkan karsa (psikomotorik).
Menurut Ki Hajar Dewantara, budi pekerti
adalah kemampuan kodrat manusia atau individu yang berkaitan dengan biologis
(rasa takut, cemas, gelisah, putus asa, tidak percaya diri, senang, bahagia,
kecewa, sedih, dll) dan berperan
menentukan karakter seseorang. Biologis juga terdapat bagian intelligible yang
berhubungan dengan kemampuan koginitif atau berfikir menyerap pengetahuan.
Dalam mendidik dan melatih kecerdasan budi
pekerti, keluarga merupakan tempat utama dalam dan yang paling baik dalam
melatih karakter anak atau murid, keluarga merupakan penyempuran budi pekerti
anak agar mereka dapat menjalani hidup dalam masyarakat. Di sekolah peran
pendidik dapat ikut serta untuk menemukan kecerdasan budi pekerti melalui
tuntunan dan teladan yang sesuai dengan kebutuhan murid, sebab pendidik
merupakan salah satu yang berpengaruh terhadap budi pekeri murid yang
sewaktu-waktu berubah.
Pendidik tidak hanya memberikan
pengetahuan dan informasi saja, melainkan memberikan pula pemahaman kepada
murid tentang fungsi dan kegunaan materi pelajaran dalam kehidupan. Selain itu
pendidik harus mengenal dan memahami kekuatan kodrat anak bahwa setiap murid dapat
mengekspresikan dan membuat pemahamannya sendiri dengan cara yang berbeda. Dalam
menilai pemaham murid seharusnya tidak hanya menggunakan satu jenis pengukuran
lalu menyimpulkannya. Tetapi dapat menggunakan alat ukur lainnya dengan
melibatkan murid unutk merefleksikan pemahaman diri dari pengalaman belajarnya.
Fungsi Pendidikan dapat mengantarkan murid agar siap hidup dan memberikan kepercayaan kepada murid bahwa di masa depan merekan akan memapu mengisi zamannya demi mencapai keselamtan dan kebahagiaan. Pendidik dapat memberikan daya upaya maksimal untuk mengembangkan akal budi pekerti murid.
REFLEKSI
REFLEKSI
AKSI NYATA 1. MERDEKA BELAJAR
Setelah saya belajar topik 1 mengenai merdeka belajar:
- Saya merasa bersalah atas tindakan saya dulu waktu memperlakukan siswa di kelas.
- Pemikiran KHD tentang makna Pendidikan begitu jauh dengan pemahaman saya dulu.
- Pemikiran KHD, bahwa guru itu ibarat petani dan siswa ibarat tanaman. Makna dari pernyataan KHD tersebut bahwa tugas guru adalah menjaga, menuntun dan memelihara kekuatan kodrat yang ada pada siswanya dengan tidak merubah kodrat baiknya.
- Benih singkong tidak bisa dijadikan jadi tanaman jagung.
- Tugas guru sebagai among, mengasuh siswanya agar anak bisa mendapatkan kebahagiaan setinggi-tingginya supaya selamat di dunia dan di akhirat.
- Anak bukan tabula rasa, mereka sudah memiliki minat dan bakatnya serta passionnya, guru tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri, tapi tugas guru adalah menebalkan minat bakat potensi anak dengan menggunakan trilogy pendidika ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karos dan tut wuri handayani.
- Guru memberikan teladan bagi anak, memberi ide-ide, berkarya tanpa henti dan selalu memotivasi anak.
- Guru adalah sebagaI fasilitator bukan diktator.
- Guru harus menuntun siswa sesuai kodrat baiknya, mereka harus merdeka dalam menentukan pilihan hidupnya agar tercapai kebahagiaan setinggi-tinginya dan meraih kemandirian hidupnya di masa depan tanpa ketergantungan orang lain.
- Pengalaman saya terkait proses pembelajaran yang merefleksikan pemkiran KHD yaitu selalu memaham kemampuan siswa yang beragam juga dalam proses pembelajaran selalu menyeimbangkan antara kogintf, afektif dan psikomotor. Dalam hal ini saya selalu mengingatkan saya bahwa dalam pemeblajaran jangan selalu mengejar nilai semata sedang sikap dan keterampilan dikesampingkan. Apalagi mendapatkan nilainya dengan cara melakukan kecurangan. Banyak orang yang pengetahuannya cemerlang tapi tidak bermanfaat kehidupannya di keluarga dan Masyarakat karena berperilaku buruk. Misalkan ada anak melakukan aktivitas yang tidak terpuji yaitu dapat mencuri motor yang terkunci dalam hitungan detik, secara fakta sangatlah jelas anak tersebut memiliki kecerdasan sangat tinggi, tetapi berdampak negatif terhadap Masyarakat
- Ing Madyo Mangun Karso salah satunya, selalu memberikan karya yang nyata di lingkungan masyarakat dengan cara memberkan ide-ide dalam kegiatan sosial, contohnya peka terhadap warga yang terkena musibah dan mengajak warga lain untuk gotong royong menggalang dana.
- Pendidikan mengandung makna ada merdeka batin, sehingga pendidikan di Indonesia selalu mpertimbangkan kodrat alam sangatlah penting dengan alasan bahwa dari hasil pendidikan ada tuntutan berupa kemanfaatannya bagi kehidupannya di masa yang akan datang. Adapun kodrat zaman perlu dipertimbangkan supaya tidak ada pergeseran budaya asli orang Indonesa yang akan merusak akhlak generas muda.
- Relevansi Pendidikan yang berpihak pada anak saya bisa lakukan dengan menganggap bahwa siswa yang sedang kita ddik dianggap sebaga anak kandung sendiri. Jika sudah danggap sebagai anak sendri akan muncul sifat ikhlas, tulus dan tidak menntut hak apapun terhadap siswa setelah kelak sswa kita mencapai ketuntasan dalam pendidikan. Dalam menuntun siswa menjadi manusia yang merdeka secara batin, pendidikan juga punya tanggung jawab yang besar untuk menjaga supaya siswa kita tidak sampai terkena virus yang akan menggerogoti sifat positif pada siswa.
- Selamat dan bahagia: Lingkungan belajar naka baik di sekolah maupun di luar sekolah kondusif, ketika anak berada di sekolah siswa merasa bahagia, tingkat stress rendah karena kenginannnya terpenuhi, anak merasa puas ada kepuasan batin juga dan menjaga anak agar anak sehat secara fisik dan mental serta menjaga kualitas hidup yang baik.






















Terima kasih pa Agus, sangat inspiratif terutama terkait pemikiran filosofi KHD. Mudah-mudahan tulisan ini bisa kita implementasikan dengan baik. Mari sambut tahun ajaran baru ini dengan penuh semangat dan perubahan 😇🙏🏻💪🏻
BalasHapusSama sam bu Sida
HapusLuarrbiasa pa Agus, sangat inspiratif sekali..... satu hal yang masuk kedalam relung jiwa ; Lingkungan belajar naka baik di sekolah maupun di luar sekolah kondusif,
BalasHapusSemoga bagi saya dan rekan guru lainnya dapat merubah mindset kita dalam melayani kebutuhan murid
Hapus